Sejarah

Sejarah Pura Besakih, Pura Terbesar Di Bali

Pura Besakih terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem Propinsi Bali. Berdiri dikaki Gunung Agung, Pura Besakih adalah pura terbesar di Bali. Wisatawan sering dikunjungi dengan sebutan candi induk Bali. Pura Besakih adalah komplek pura, dimana Pura Penataran Agung merupakan pusat dari pura-pura yang ada di dalam wilayah pura Besakih tersebut.

[tag no=1 tag=[“Pura” ]

Sejarah Pura Besakih

Besakih asal katanya dari kata Basuki yang artinya selamat, kemudian disebut Basakih atau Besakih. Pura Besakih asal mulanya didirikan oleh Rsi Markandya. Rsi Markandya adalah seorang Yogi dari India yang tinggal di Jawa Timur yang selamat di Gunung Rawung. Karena ketinggian ilmu bhatinnya, kesucian rohaninya, serta kecakapan dan pembicaraannya maka oleh rakyat, ia berhak atas julukan Bhatara Giri Rawang. Beliau juga seorang pertapa. Mulanya dia bertapa di Gunung Demulung, sekian waktu kemudian dia bertapa ke Gunung Hyang (Dieng di Jawa Tengah). Sekian waktu lamanya bertapa, akhirnya ia mendapat Pawisik wahyu dari Tuhan agar merabas hutan di Pulau Dawa (Bali) untuk kemudian dibagi-bagikan untuk para pengikutnya.Demikianlah kemudian dia berangkat ke tanah Bali, menerima 8000 orang yang menggunakan perlengkapan dan perlengkapan yang dibutuhkan. Sesampainya ditempat yang dituju, beliau membuka pengantar agar mulai merambas hutan. Tempat itu merupakan hutan belantara yang ditumbuhi kayu lebat dan semak belukar.

Pada saat itu Pulau Bali belum terpisah seperti sekarang dengan Pulau Jawa. Artinya Selat Bali (Segara Rupek) belum ada pada saat kedatangan Rsi Markandya ke Bali.Sekian lama merambas hutan, karena pada saat mulai merambas hutan itu tidak didahului dengan upacara (yadnya) kemudian murkalah Sang Hyang Widhi. Para Pengikut Rsi Markandya banyak yang sakit dan meninggal, juga tidak sedikit yang dimakan binatang buas. Sang Rsi sangat berduka.Kemudian dia dapat pergi. Dengan hati yang gembira dia kemudian mengundang pengikutnya untuk kembali ke Jawa. Dia kembali ketempat pertapaannya semula untuk meminta petunjuk kepada sang Hyang Widhi.Setelah beberapa lamanya dia dipertanyakan, timbul cita-citanya kembali untuk memperoleh merambas hutan tersebut.

Pada suatu hari yang baik, beliau kembali ke tanah Bali. Kali ini dia mengundang pengikutnya yang berjumblah 4000 orang yang berasal dari desa Aga yaitu penduduk yang mendiami lereng Gunung Rawung. Turut dalam rombongan itu untuk Pandita atau para Rsi. Para pengikutnya membawa perlengkapan bersama alat-alat pertanian dan bibit tanaman untuk ditanam di tempat yang baru.Sesampainya ditempat yang dituju, Rsi Markandya bersama para Pandita atau para Rsi melakukan yoga samadhi, weda samadhi, melakukan upacara Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya serta Pratiwi Stawa. doa penolak seluruh hama. Selesai melakukan upacara lalu dia mengadakan pengantar mulai merambas hutan, menebangi kayu-kayu mulai dari sebelah selatan menuju ke utara.Ketika dirasa sudah cukup luas, kemudian Rsi Markandya mulai membuka pengantar perambasan.

Kemudian tanah itu dibagi-bagikan bagi pengikutnya untuk digunakan sebagai: sawah, tegalan dan pekarangan rumah.Demikianlah pengikut Rsi Markandya yang berasal dari Desa Aga (penduduk lereng Gunung Rawung Jawa Timur) diselesaikan di tempat itu sekarang. Ditempatkan bekas dimulainya hutan oleh Sang Rsi / Yogi Markandya menanam kendi (caratan) berisi air menggunakan 5 jenis logam yaitu: emas, perak, tembaga, perunggu dan besi yang disebut Panca Datu dan permata Mirahadi (mirah yang utama) dengan situpun diakses menggunakan upakara selengkapnya dan diperciki Tirta Pangentas (air suci).

Tempat menanam 5 jenis logam itu diberinama Basuki yang artinya selamat. Kenapa disebut demikian, karena pada saat kedatangan Rsi Markandya yang ke dua orang 4000 pengikutnya yang selamat tidak ada yang menentang atau yang suka seperti yang dialami pada saat yang baru datang yang datangnya yang pertama. Ditempatkan itu kemudian didirikan palinggih. Lambat laun di tempat yang kemudian didirikan pura atau khayangan yang diberi nama Pura Basukian. Pura inilah cikal-bakal berdirinya pura-pura yang terletak di komplek Pura Besakih. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pembangunan pura ditempat itu dimulai sejak Isaka 85 atau tahun 163 Masehi.Pengembangan komplek pura di Pura Besakih sifatnya bertahap dan berkelanjutan diperbaiki usaha pemugaran dan perbaikan yang dilakukan terus-menerus dari masa kemasa.

Source
Info Bali
Tags
Show More
Loading...

Related Articles

Back to top button
Close